♫♬

Monday, December 5, 2016

Diary Octopus



Diary Octopus
Saat cinta yang kupunya bukan apa yang direstui semesta

LANNA RY

Penerbit CV Raditeens, 2016

***
Aku tak lagi merasakan kesepian, aku mendadak tak lagi takut soal sendiri.
Karena yakinku, doa mu selalu membersamaiku….
***
Kau bisa lihat ada apa di sana?
Ada harapan yang terlanjur musnah,
Ada kekecewaan yang sudah berdebu,
Ada kesedihan beradu padu,
Ada mata yang tak berhenti berdrama
Aku tidak apa-apa.

***




Wednesday, July 27, 2016

DIA

Tuhan, boleh aku mengadu tentang banyak hal?
Pria itu manis sekali. Aku memang belum pernah melihatnya secara utuh dan jelas dengan kedua bola mata yang Kau berikan. Tapi, aku tahu dia pria yang manis;barangkali aku menebak. Hingga kemanisan yang kutemukan dalam dirinya membuatku tersenyum amat sering.

Pria itu lucu,meski benar kelucuannya belum sempurna ia sematkan dalam kehidupan nyataku. Tapi jauhpun, dia amat berhasil membuat gigiku tampak sambil tertawa.

Tuhan, aku ingin sekali mengadu banyak hal.
Tentang bagaimana susahnya aku merangkai hati untuk bangkit dan pergi sejauh mungkin dari masa kelamku.

Tentang bagaimana bibirku selalu terkunci rapat atas duniaku yang terdahulu pada orang-orang baru, apalagi seorang pria.

Tapi, malam itu. sederet kalimat ia kirimkan melalui ruang chat yang memang dari sanalah aku bisa bertemu pria itu.

Ada pelangi di matamu. – Pesannya.

Aku sedikitpun tak terpikir bahwa itu adalah kalimat pujian untukku dari pria itu. Melainkan kalimat pernyataan pandangannya atas diriku. Aku tersenyum amat pahit dari balik telepon genggamku—asal dia tahu.

 Dan malam itu pula,

Aku menceritakan semuanya pada pria ini. Pria manisku yang kusebut dalam paragraph pertama, pria lucuku yang kusebut pada paragraph kedua.

Dan tahulah dia siapa aku di masa lalu.
Pria manisku mendengarkan setiap kalimat yang aku utarakan.

Dan,
Setelahnya akulah yang membathin, pelan, tanpa kusadari ada air mata yang turun.

Semoga dia tahu penyebabnya.


Love,

L’R.

Thursday, May 12, 2016

Aku Hanya Tidak Mengerti

Sayang,
Ada rasa yang sebenarnya belum sepenuhnya kamu paham. Ada cara yang sebelumnya memang belum kamu mengerti. Aku tidak menyalahkan takdir soal apapun. Hanya saja, apa benar jika sebenarnya kita bertaut? Atau pura-pura bertaut?  Apa benar kita memahami? Atau sebenarnya ketidakpedulian yang dipaham-pahamkan? Entahlah.

Aku,
Tidak pernah banyak meminta. Tidak meminta seluruh isi kepalamu harus aku. Tidak pula meminta 24 jam milikmu harus menjadi milikku.

Aku hanya tidak mengerti, sejauh mana sebenarnya kita saling mengenal. Sejauh mana kita bertaut, sejauh mana kamu menginginkan aku ada, sejauh mana namaku masuk dalam hatimu, sejauh mana aku berada pada detik nafasmu. Aku hanya tidak mengerti.

Lidahku yang berbicara soal rasa tak pernah bisa merubahmu. Tak pernah mampu menjelaskan bagaimana dari dulu—mungkin sekarang—kamu tetap berada di satu celah hati milikku. Kamu tidak paham, atau sulit paham, atau bahkan tidak mau paham. Aku juga tidak mengerti soal ini.

Setiap pergerakan tubuhmu, sama sekali tak terjangkau oleh mataku, apalagi tanganku. Bagaimana bisa aku berdiam diri tanpa bertanya apapun? Pun, kamu juga jarang sekali bertanya aku kemana, aku bersama siapa, aku kenapa, aku baik-baik saja atau bahkan nafasku tinggal sejengkal. Aku juga sangat tidak mengerti soal ini. Aku berada di mana dalam hatimu?


Ada seribu pertanyaan bertajuk Apa yang juga entahlah menanyakannya….

Thursday, April 7, 2016

Dera Is (Not) My Dream

Buku ini kutulis untuk dia,
Seseorang yang tak sama sekali matanya bertatap dengan mataku. Yang tubuhnya terpisah oleh pebatasan laut yang entah sekian sekian kilo meter.

Meski, 
Entah yang kutulis ini tersampaikan atau tidak. Setidaknya segala yang kusimpan teralokasikan. Jika tidak pada nyataku,bolehlah pada tulisanku. Its enough for me.

Dera, aku mencintaimu sesedarhana tulisanku.. 

*** 

Sebab

Sebab terkadang,
Aku ingin dikenal.
Diakui ada, dilihat nyata.
Sebab terkadang,
Aku ingin terbang, menarikmu dari seisi keramaian.
Untuk menjelaskan,
Ada do'aku.
Di sana.

Di perbatasan langit dan singgasana Tuhan.

Penulis: Lanna Ry (Wulan Arya)
Tebal: viii+100 hlm
ISBN: 978-602-74252-3-1
Penerbit: CV Raditeens
Harga: Rp38.000

Order : 
LINE : Aryawulan 
WA : 0897-0110-558

Monday, February 29, 2016

Di tumpukan Mana?

Kepada kamu, orang yang kurang lebih empat tahun kusebut sahabat.
Aku sering sekali berada di posisi ini. Posisi di mana aku, tidak tahu apa-apa. Tidak tahu apa masalahmu, tidak tahu apa maumu, tidak tahu bagaimana bersikap denganmu, tidak tahu bagaimana merengkuhmu seperti—konon—sahabat yang selalu ada dalam setiap situasi apapun.

Tak jarang bahkan hampir setiap saat aku dihadapkan dengan sikapmu yang semacam ini aku tetap mencoba berbicara. Mencoba menjadi sahabat yang katanya selalu ada. Namun, barangkali bukan itu maumu.

Kerap kali, ketika tanganku menyentuh ujung kulitmu kamu menepisnya, namun saat itu akupun masih mencoba menyimpulkan senyum. Meski jauh dari lubuk hati, ada rasa pahit yang tak mampu aku jelaskan.

Kerap kali, di saat seperti ini. Tubuhku mendekatimu, mencoba mencairkan suasana diammu. Namun, sekali lagi, kamu beringsut pergi dan menjauhi tubuh yang mati-matian aku dekatkan padamu, hanya karena aku tak ingin membuatmu merasa seorang diri.

Sering sekali, bibirku mencoba berbicara dengan nada ceria—meski keceriaanku itu dibuat-buat—hanya karena aku ingin mengobrak abrik diammu menjadi tawa. Namun, sering pula ucapku itu bertemu dengan senyum sinismu tanpa balasan yang kuinginkan.

Di mana sebenarnya aku di letakkan dalam hidup seorang yang kusebut sahabat? Apakah aku diletakkan pada tumpukan ketidakpentingan di paling bawah dari hidupmu?

Kamu,
Memang paling baik, paling nyata berada dirak teratas ketika aku terjatuh. Telinga yang paling terbuka lebar atas cerita hidup yang memuakkan. Tapi, mungkin tidak denganku.

Aku,
Bukan yang paling baik, bukan yang paling nyata ada, juga bukan pendengar yang kamu inginkan ada. Hingga kamu lebih memilih diam dengan sejuta ketidakmungkinan yang aku ciptakan sendiri.

Lantas, di manakah letak orang yang kupikir sahabatmu ini?
Setiap cerita entah itu ceria atau duka, selalu kukisahkan bulat-bulat denganmu. Namun sejauh ini, diam masih menjadi andalanmu.

Jika mereka bertanya tentangmu padaku, jelas aku menjawab tidak tahu.
Bagaimanalah? Bahkan untuk memulai berbicara dengan alphabet A saja. Kamu sudah beringsut menjauh.

Lantas, sekali lagi kutanya. Di manakah sebenarnya aku diletakkan dalam hidupmu?

Sahabat—pantaskah diriku menempatkan diri sebagai sahabatmu?—
Aku berkali-kali mengatakan pada semua orang. Aku bukan malaikat. Aku bukan peri. Aku bukan bidadari. Aku bukan makhluk Tuhan yang punya kadar kesabaran beratas-ratus kali lipat. Yang bisa kamu acuhkan sebebas diammu.

Aku tidak bisa menerka apa maksud diammu. Entah itu dikarenakan aku, oranglain, orang tuamu, masalahmu atau apapun.

Tapi rasanya tak pantas jika di posisi kedewasaan macam ini, bisu menjadi andalanmu.

Aku tidak bisa kerap kali melawan egoku untuk terus kamu abaikan ketika ucapku mati-matian aku paksakan. Aku tidak bisa kerap kali mendapatkan perlakuan seolah aku yang bersalah, sedangkan aku sudah bersusah payah membuatmu kembali tertawa.

Aku juga bisa lelah, bisa habis kata, bisa habis daya, bisa habis kesabaran, bisa habis cara, bisa habis kekuatan, bisa habis kepercayaan bahwa aku adalah sahabatmu.

Takkah sebenarnya sahabat saling menguatkan? Namun, bagaimana aku menguatkanmu jika setiap kekuatan yang aku salurkan justeru kamu tolak mentah-mentah dengan diammu?

Takkah sebenarnya sahabat saling berbagi? Bagaimana bisa berbagi jika hanya mulutku saja yang berkoar-koar dan mulutmu terkunci?

Lalu, di tumpukkan mana aku berada? 


#LR
Batam, 29 Februari 2016.

Monday, January 18, 2016

Meski Dulu

Teruntuk masa lalu yang nampaknya masih berpikir bahwa dirinya adalah nomer satu.
Semoga kamu baca ini…
Sayang,
Waktu dapat merubah segalanya. Waktu dapat menyembuhkan luka yang dulu sempat menganga. Waktu dalam mendewasakan saya, waktu dapat membiasakan saya tanpa kamu.

Dengarlah ini,
Meski kamu dulu saya sebut-sebut berarti, meski dulu selalu kamu yang saya jadikan subjek yang PALING terkasih. Semua berubah, sayang. Semua benar-benar berubah. Hidup saya, dunia saya, rasa simpatik saya, rasa kasih sayang, semua tidak lagi tertuju pada kamu. Saya tidak lagi berimajinasi bahwa ada masa di mana kita bersatu, menjalin persahabatan seperti impi saya;dahulu.

Waktu berjalan, dan kebaikhatian saya menguap. Semuanya hilang, dan kamu bukan lagi separuh bahagia saya. Maaf, mungkin saya tidak semaaf Tuhan yang mampu memaafkanmu dalam sekali ucap. Jika boleh jujur, kebencian saya terhadap sikapmu semakin mengental. Entah kenapa, ini tak lagi soal rasa. Namun, soal kedewasaan.

Caramu membuat saya muak. Membuat saya ingin muntah. Hah, ini begitu gila. Sebenarnya, diantara saya dan kamu, siapakah yang tak pandai berdamai dengan masa lalu? Kamu? atau saya?

Kamu selalu bilang, bahwa kamu takut saya kembali ke masa pengharapan atas hadirmu. Hah, takkah kamu sedang bercanda? Hidupmu bukan lagi urusan saya, jikapun iya, tugas saya hanya memberimu do’a, bukan kembali merangkai pengharapan.

Sejauh ini, dua tahun berjalan. Saya merubah diri saya menjadi pemaaf, menjadi perela, namun, rasanya itu percuma jika subjek yang saya hadapi adalah kamu. Sempurna waktu merubah pikiran saya. Bahwa hidup saya mutlak ditangan saya. Dan separuh kebahagian yang PERNAH saya gantungkan kepadamu, saya cabut dan saya biarkan mereka terbang mencari jalannya.

Boleh saya  minta sesuatu? Pergilah sejauh mungkin, sejauh yang kamu bisa. Jangan ganggu hidup saya lagi dengan alasan apapun. Bukankah, dulu kamu yang mengajarkan saya pergi? Saya tidak balas dendam. Hanya, saya sudah terbiasa tanpa kamu. Benar sudah menguap semua harapan tuk bertemu.

Caramu menyadarkan saya, bahwa saya tak selayaknya memperjuangkan manusia yang bahkan tak ingin diperjuangkan. Waktu merubah hati saya menjadi kembali keras, sayang. Tak ada ruang untuk kembali baik, apalagi kembali berjuang hanya karena sebuah sapaan yang tidak sengaja kamu keluarkan dari bibirmu lewat ujung telepon.

Bawa saja semua rasamu. Rasa bersalah dan semua permintaan maafmu. Semua sudah basi. Semua sudah sempurna menguap…
Terimakasih, sayang….
18 Januari 2016.
Lanna Ry.




Thursday, January 14, 2016

Jangan Tarik, Sayang

Jangan pukul aku dengan menarikku ke masa lalu. Ya, aku salah. Duniaku pernah terjungkir balik. Aku pernah mencinta begitu hebatnya, pernah terhempas pada akhirnya. Pernah berjuang dengan penuh kasih, pernah merangkai kata cinta untuknya. Pernah merasa bahwa dia adalah obat dalam sesakku. Dan aku tahu, dia perempuan.

Aku salah dan aku tahu. Tapi, takkah ada beribu kesempatan untuk bertaubat? Minimal, kembali pada jalurNya?

Aku tahu aku berdosa, justeru karena itu aku mencoba kembali. Aku masih belum sepenuhnya terarah, tapi hatiku mulai tertata. Lihatlah, kalian tak tahu bagaimana tangisku pecah sejadi-jadinya merelakan. Menghapuskan rasa yang memang tak sepantasnya ada.

Kalian tidak tahu bagaimana sesaknya keluar dari lubang yang terlanjur dalam. Rasaku pada perempuan itu justeru sudah terlanjur hebat. Terlanjur dahsyat, tapi syukurnya rasaku tak berbalas dan Tuhan menghempaskanku sendirian tanpa pertolongan perempuanku tadi.

Sendiri aku tertatih mencinta, terluka macam orang gila. Tapi, apakah berbalas iba? TIDAK. Dan sempurna Tuhan menghempaskanku, sayang.

Lama aku mencari celah agar bisa pergi, menikmati setiap luka yang perempuanku beri, aku tidak mencari alasan untuk membencinya, namun mencari alasan untuk pergi dan kembali pada jalanku.
Takdir Tuhan bekerja disetiap sujudku, disetiap air mata yang berlinang karena malu. Rasa itu musnah, hancur dan beruap. Aku sudah tidak lagi menggila olehnya, tidak lagi mencari dalam setiap malamku. Tidak mencari dalam setiap ketikan abjadku. Lambat namun pasti, perempuanku telah pergi..

Dan jika sekarang kudengar sayup-sayup aku dihujat karena kesoksucian. Kepalaku tertunduk, kakiku melemah, rasanya hujatan itu menusuk tepat dihatiku. Jangan tarik aku menuju masa lalu yang semacam itu, aku lelah, aku ingin sempurna kembali.

Biarlah aku berada pada duniaku sekarang, dunia yang sudutnya diasingkan. Dianggap sok suci, ekstrimis, dianggap teroris, dianggap sok baik, dianggap sok malaikat, dianggap aneh, kampungan, atau apalah. Asal tak lagi aku berada pada duniaku dahulu…

Demi nama Rabbku, aku ingin sempurna kembali….


Batam, 14 January 2016.

Wednesday, December 30, 2015

Hijrah Bersamaku, Kawan?

Jangan menangis, sayang. Kamu tidak sehina itu, manusia bisa saja salah, jatuh pada lubang terdalam. Masuk dalam pusaran angin yang menurut akal sehat membawanya berputar tak kenal arah. Semuanya memang manyakitkan, hanya saja tak ada pilihan lain selain mengikuti pusaran angin itu. Hingga mereda dan akhirnya berhenti.

Mungkin, pusaran anginmu telah berhenti. Dan kamu harus kembali pada jalanmu. Jalan yang menjadi ambisimu maju, melangkah, dan barangkali berdakwah.

Lupakan pusaran angin itu, lupakan jiwamu yang terbang tak kenal arah. Kini semua sudah berubah, sayang. Pusaranmu telah berhenti, dan kamu semestinya kembali.

Sayangku,
Aku mungkin lebih hina, atau entahlah. Kita tidak mencari siapa yang lebih banyak dosanya, yang lebih hina, yang lebih jauh jalannya, aku mungkin seharusnya lebih malu. Merangkai hati untuk orang yang berstatus sama.

Aku tahu kamu sulit untuk keluar, sama. Aku juga begitu tertatih, merangkak amat pelan, tapi aku ingin sempurna keluar dari perbatasan duniaku. Dunia yang di sana terdapat jiwa-jiwa setengah dewa dan setengah dewi. Hah, ini semacam lelucon bagimu. Tapi ini, juga teramat menyakitkan.

Aku sama denganmu, sayang.
Merangkak berkali-kali, dan jatuh tersungkur  berkali-kali. Tapi berjanjilah untuk terus merangkak. Setidaknya, rangkul aku untuk tetap merangkak. Aku begitu ketakutan di perbatasan ini, andai saja Khaliq mencabut nyawaku saat ini, sudah pasti hatiku begitu hitam legam kotor tertutupi banyak dosa yang melimpah ruah.

Berjanjilah, sayang. Terus dengar keluhku, untuk tidak menyudutkanku.

Tetaplah berada di jalan yang benar, sayang,

Aku juga mati-matian berperang dengan perasaan.

Urs Friend.

Sulastri.

Tak Seperti Tuhan

Manusia tidak sepemaaf Tuhan, sayang. Butuh waktu puluhan ribu hari untuk benar-benar ikhlas melepaskan, benar-benar rela memaafkan, itupun, bisajadi hanya maaf yang terlontar dari bibir. Bukan maaf yang terangkai dari hati.

Manusia tidak sehebat Tuhan, sayang. Meski sehebat apapun ia memendam luka, sekuat apapun usahanya menghapus air mata. Bisa jadi, hatinya rapuh. Bisa jadi, ada harap yang terpintal agar ada yang membuatnya merasa hebat.

Dan sepertinya kamu lupa, bahwa yang kamu hadapi manusia. Yang dihatinya pula menjalar ribuan harapan yang bercabang lagi menjadi butir harapan yang siap tumbuh. Namun, sepertinya kamu tidak pula sepengerti Tuhan.

Aku bukan Tuhan yang bisa kapan saja menerima maafmu, yang bisa merangkai hati yang kapan saja kamu patahkan, aku bukan Tuhan yang dalam mili detiknya siap mendengar ribuan kosakata. Aku bukan Tuhan yang siap dipatahkan berkali-kali oleh subjek yang sama, sayang.

Aku menghela napas sendirian, akal sehatku seperti sudah hilang. Jiwaku terbang, entah terbawa angin, terbawa maling, atau terbawa angan-angan.

Takkah kamu berpikir sedikit tentang apa yang menyelinap dalam imajiku?

Oh, aku lupa. Kamu bukan Tuhan. Maaf.

Saturday, December 26, 2015

Kukasihi Kau Dalam Setiap Abjadku

Aku mengasihimu dengan sederhana, sesederhana setiap abjad yang kurangkai menjadi sebuah kalimat. Aku mengasihimu dengan sederhana, sesederhana bahagianya hatiku mendengar tawamu. Kupikir, kasih itu gila. Segila tiap imaji yang kuciptakan tentang kamu.

Kosakata ini adalah setiap hembusan harap yang tak sempat kamu lirik, sayang. Deretan abjad ini adalah rasa yang belum sempat kamu pahami seutuhnya, kasih tak sebercanda itu. Perasaan tidak seremeh itu, bagiku.

Pikirku, cinta adalah cinta apapun bentuknya. Rasa ini memang tidak lumrah dalam kamusku, hingga detik ini. Tapi perasaan yang ada tak pernah bisa mengada, aku benar mengasihimu seperti aku mengasihi setiap tulisan yang aku rangkai.

Namun, benarkah ada ruang dalam hatimu untuk mengasihiku dari kejauhan? Tanyaku menggebu, aku juga tidak mampu mengerti duniamu sepenuhnya, aku kesulitan mencarimu diperbatasan imaji dan nyata. Takkah sebenarnya kita bertaut? Atau pura-pura bertaut? Entahlah, sayang. Apapun itu, hingga tulisan ini akhirnya aku tulis, aku masih mengasihimu dan menjadikanmu separuh dari bahagiaku.

Waktumu mungkin tersita habis untuk kehidupan nyatamu, tapi kuharap kamu tahu ada orang yang menunggu kabarmu. Ada orang yang pelan menghapus air matanya karenamu, ada. Dan itu terlalu nyata.

Sayang, jika kamu mau tahu apa yang membuatku bahagia. Carilah aku ketika aku lelah untuk mencarimu, mengertilah aku seperti mati-matian aku mengertimu, dan sayangi aku seperti aku mencari seribu cara untuk menyayangimu…

Me,

Lanna.

Sunday, December 20, 2015

Lo(st)ve.

Tulisan ini aku tujukan langsung untuk kamu,

Maaf sudah hadir dan mengganggu dunia nyatamu, merusak segala imaji tentangmu dan masa lalu. Aku lancang melangkah masuk dalam segala nyata yang aku fantasikan sendiri. Aku sudah menenggelamkan diri pada rasa yang kukobarkan seorang diri.

Ini, memang begitu menyakitkan. Tapi, air mataku tidak aku keluarkan. Karena aku paham, perjuangan untuk mencintai dengan kasih tulus, tidak bisa berawal dari sebuah sapa. Beda denganku, aku terlalu percaya pada dunia bahwa seseorang tidak mungkin menyakiti.

Bukankah memang sudah kerap aku mengalah, kalah dan terkalahkan? Dan wajar, aku sudah bisa menebak dari awal sebelum aku menenggelamkan diri pada zona ini. Bahwa, barangkali orang yang aku kasihi tak sepenuhnya bisa mengasihiku, mengertiku, membuatku percaya bahwa dunia masih ingin melihat senyumku…

Tak perlu aku menyesal, dan tak perlu kamu lontarkan ucapan maafmu. Simpanlah, dan berbahagialah, sayang. Hidupmu adalah mutlak di tanganmu; sama seperti kalimatku malam itu. Tak ada yang bisa mengubahnya.

Mungkin, aku tidak sehebat orang itu yang bisa membuatmu terlena dan menangis di sela malammu. Yang bisa hinggap dalam celah pikiran kosongmu, mungkin aku tidak seistimewa itu untuk diperlakukan istimewa, tenanglah. Tak ada tuntutan dalam kamusku. Berbahagialah, sekali lagi. Hidupmu adalah milikmu…

Sayang, kamu memang tak sempat aku lihat dengan bola matamu. Aku tak sempat memelukmu. Tapi sudahlah, kebahagiaan seseorang yang aku sayang adalah hal yang selalu jadi ambisiku selama ini. Tak peduli seberapa sakit dan kecewa, aku akan rela. Meski kerelaanku itu direla-relakan…

Aku mencintaimu dengan sederhana, sesederhana abjad yang sedari tadi kamu baca. Rangkaian harap yang selama ini tak sedikitpun sempat kamu lirik, susunan rasa yang kurakit seorang diri tanpa sempat kamu pedulikan.

Aku mencintai secara sederhana, sesedarhana bahagiaku mendengar tawamu. Mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibirmu, meski bisa kuhitung barangkali tak sampai 100 kalimat. Tapi, setidaknya aku pernah tertawa karenamu,sayang. Setidaknya aku tahu, begini rasanya mencintai dengan sudut berbeda……

Aku tidak mengakhiri, hanya saja aku mengikuti, carilah aku ketika kamu butuh, kabari aku jika kamu sempat, hubungi aku ketika kamu bisa, dan sayangilah aku dengan caramu jika masih ada ruang..
Jujur, kupikir semua tak akan sesedih ini, tapi semua sudah terlanjur. Dan tawamu mengalihkan akal sehatku…

With A Tears and Love,
Lanna…………………………

Friday, December 11, 2015

Hope?

Sebelum tulisan ini, aku sempat menulis. Di dalam tulisan itu, kurangkai bahwa aku tak akan jatuh hati, bahwa aku tak akan membawamu dalam duniaku. Tak akan membawamu dalam setiap imajiku.
 
Namun, aku lupa bahwa yang aku lawan adalah perasaan. Rasa pemberontakan itu justeru membawaku melambung masuk dalam setiap imajinasiku, dan benar itu tentang kamu.

Ada pengharapan yang tak masuk akal, ada rasa yang konyol yang tak sempat aku lawan.

Aku jatuh pada setiap perlakuan dan perkataan yang membuatku merasa dibutuhkan.

Aku tak perlu menutupi, kupikir. Sebab apa pentingnya menutupi jika setiap perlakuanku justeru orang  bodohpun tahu bahwa tersemat harapan di dalamnya?

Namun apalah? Pengharapan semacam apa yang aku mau?


Entah, tidak tahu. Jangan tanyakan, cukuplah mengerti. Bahwa dalam aliran darahku sekarang, ada sebuah harapan yang tak terdefinisikan..

Wednesday, December 2, 2015

Disayangi Ann


Aku tak pernah berfikir serumit ini, logika dan perasaanku beradu. Jiwa dan argumenku bertengkar. Haruskah yang menyayangiku adalah sosoknya? Tak sempat aku bertukar sapa lebih jauh dari sekadar ruang obrolan sempit. Tak pernah pula aku mendengar suaranya lebih jelas dari sekadar voice note ataupun melalui signal telephone. Lantas, bagaimana bisa dia menyayangiku lebih dalam dari sekadar teman baiknya?

Takkah kamu berpikir betapa tololnya logikaku berpikir ini mati-matian? Benarkah cinta adalah cinta entah bagaimanapun itu bentuknya? Lalu, apalah? Benarkah?

Sayangkah namanya jika aku mengikuti rasa sayangnya yang tersemat? Apakah baik namanya jika aku menautkan sayangnya dalam kehidupanku? Tuhan, ini konyol. Dicintai Ann? Dia baik, lebih baik dari pria yang menyelinap masuk dalam hidupku, yang pada akhirnya menyisakan seribu janji kebahagiaan yang menguap.

Ann diam. Tapi jelas kurasakan rasa sayangnya, tapi aku tak tahu jika Ann menyayangiku lebih dari sayang yang aku definisakan. Ann menyelinap masuk dalam hidupku pelan, candanya memang bisa membuatku tertawa. Seisi kepalaku rasanya juga Ann tahu. Tapi aku tak mungkin menyayangi Ann mengikuti definisi yang Ann ciptakan.

Logikaku terbentur aturan yang aku genggam mati-matian. Selama ini aku genggam cinta atas dasar aturan Tuhanku. Aku menjaga diriku lebih dari aku menjaga barang kesayanganku. Aku rela diasingkan banyak pihak karena aku memilih berbeda dengan mereka.

Lantas sekarang? Aku belum pernah menyentuh dunia semacam ini dan disodorkan kenyataan. Aku tersenyum memang, berpikir bahwa aku bisa disayangi seseorang karena caraku sendiri. Namun demi Tuhan, aku tak bermaksud membuat Ann jatuh hati dengan caraku membuatnya tersenyum—barangkali.

Aku jelas menyayangi Ann, siapa yang tak menyayanginya? Dia hampir punya semua, paras, pintar, pandai bergaul. Tapi sumpah Tuhan. Tak sampai hati aku membiarkan Ann menciptakan rasa kasih seorang diri. Jahat? Iya.

Perasaaku dihantam habis oleh rasa bersalah pada Tuhan. Akan lebih jahat jika aku mengukir kasih bersama Ann.

Aku perempuan. Ann perempuan. Tak mungkin ada tali yang kurajut bersamanya.
Anna. Teman baikku, kan ku peluk kamu erat. Akan aku ajarkan kamu menghapus rasamu yang berbeda. Ann teman baikku, percayalah ada orang yang ditakdirkan untukmu. Jelas bukan aku. Tak mungkin Tuhan menyematkan rasa semacam yang kamu rasakan.

Sebelumnya, terimakasih telah menyayangiku,Anna. Berbahagialah, karena senyummu adalah bahagiaku pula.



Friday, November 27, 2015

Dera

#DearDera.

Tulisan ini berawal dari unggahan Dera bertajuk duka cita atas penggemar yang telah berpulang.

Dera yang di sayangi banyak pihak, Dera mungkin tidak tahu bagaimana mudahnya Dera untuk di sayangi dari segala penjuru kota. Dari yang berusia muda atau tidak. Dera begitu istimewa di mata banyak manusia. Dera terlalu jadi ambisi untuk digapai. Semoga Dera tak lupa bahwa penggemar jauh Dera mengenggam harapan untuk bertatap mata.

Dera, sebelum ini ditulis, Dera pasti paham banyak do’a mengalir untuk kesuksesan Dera. Dan sekali lagi, semoga Dera tidak lupa atas penggemar yang belum sempat bertatap muka.

Mungkin Dera sempat berfikir, minimal sekali. Bahwa banyak penggemar yang tabiatnya di luar batas kewajaran. Kerjanya hanya rusuh di setiap social media milik Dera. Tapi, percayalah itu semata-mata bahwa mereka—termasuk yang menulis ini—juga ingin Dera tahu, ingin Dera respon. Setidaknya Dera sapa dalam media social milik Dera.

Embel-embel pertemuan untuk penggemar yang berjarak hanyalah sebuah bonus. Yang terfikir hanya bagaimana bisa menyalurkan rasa kagum pada Dera dengan cara mereka masing-masing. Dera, seribu abjad yang terangkai pada tulisan ini tak bermaksud menyudutkan Dera untuk sapaan yang belum sempat tersampaikan, atau usaha yang belum sempat Dera lihat.

Dera jelas sibuk dan tak punya banyak waktu untuk duduk mentap layar dan terpaku membalas sapaan, otak-otak kami mengerti itu tanpa Dera minta. Seperti Dera yang selalu membuat kami tersenyum tanpa kami minta.

Meski pada akhirnya kami bertemu atau tidak. Kami tahu, Dera baik.

Dera,
Terus semangat untuk album Dera bulan depan. Sampai detik ini, Dera masih menjadi kesayangan banyak orang. Tetap berbaik hati, tetap berusaha, Allah bersama Dera selalu. Seperti do’a kami yang selalu mengiringi kesuksesan Dera. Bagaimanapun Dera kedepannya, semangat dari kami selalu ada tuk disalurkan pada Dera.

Terimakasih ya,Dera. Untuk keajaiban yang Dera bagi pada kami. Terimakasih atas kebaikhatian Dera untuk membuat kami berbahagia. Semoga sukses selalu Dera genggam.
Untuk akhir seperti Lola, Dera tetap hidup dalam hatinya.

Love,
Lanna Ry.

Batam, 27 November 2015.




Thursday, November 26, 2015

Kamu, Siapa?

Kamu, siapa?
Teman baru yang benar-benar baru. Belum genap tujuh hari kita saling bertukar aksara dalam ruang obrolan sempit via whatsapp. Baiklah, jika sekarang saya ditugaskan untuk merangkai tentang kamu, barangkali saya akan memulai dari hal yang paling ganas di antara kita. Kamu tahu?

Ruang yang tak sama, tanah yang berbeda, jangkauan yang tak seirama. Ah, satu hal yang paling ganas di antara pertemanan macam ini adalah jarak. Takkah sebenarnya kita bisa begitu dekat dan erat jika tak tersekat oleh lautan? Takkah kamu bisa sedikit merenung jika kita sebenarnya justeru bisa berlarian ke sana- kemari bak film india jika tak terhalang perbedaan garis pada peta?

Barangkali benar, jika saya selalu berkubang pada masa lalu tentang jarak, hingga rasanya pertemanan macam kita terasa begitu semu, samar-samar, dan barangkali pasti hilang. Sebab percaya atau tidak, seseorang yang nyata mengelilingimu akan jauh lebih tinggi derajatnya dalam hidupmu daripada seorang dalam dunia mayamu—meski sedekat apapun dia.

Teman baru saya yang entah baik atau tidak :p
Tak ada rasa yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini, hanya ada harapan terselip dalam setiap ketikan saya. Semoga pada akhirnya kita bertemu pada tanah yang sama….
Selamat datang di dunia saya,Madha.. Selamat berteman ^^

Love,

Lanna Ry.

Tuesday, October 20, 2015

Sebuah Keyakinan

Satu hal yang tidak aku bayangkan, bagaimana aku bisa menggantungkan rasa pada seseorang yang jelas tak pernah sama. Hanya ada satu kayakinan, bahwa pada akhirnya kami akan sejalan. Entahlah, keyakinan itu aku bulatkan pada jiwaku. Agar aku selalu bisa menyatu.

Batam,
20 October 2015.


Untuk sebuah keyakinan yang kuyakin suatu saat akan sejalan…

Friday, September 18, 2015

Jarak, Mimpi dan Kita

Untuk kamu yang keberadaannya jauh di sana. Seribu rangkaian abjad yang kutulis barangkali tak akan pernah bisa memperdekat jarak yang terbentang. Puluhan sapaan dari ujung telepon juga barangkali tak mampu menyatukan raga.

Jarak selalu menang dari segala sisi dan sudut. Atas hal-hal yang diimpikan, dan jarak mutlak menang meruntuhkannya. Takkah kamu juga merasakan? Bagaimana kita benar-benar ambruk oleh posisi jarak yang ganas? Jarak membuat mimpi atas sebuah pertemuan bahkan hancur berkeping tak bersisa. Kamu, dan saya hanya mampu berilusi. Berlayar pada lautan mimpi belaka bertajuk harapan. Tragis, semuanya berujung pada lamunan. Hah, konyol!

Kamu,
Meskipun kita lelah untuk bertukar sapa, juga lelah untuk bermimpi hal yang sama. Bersabarlah, kamu tak seorang diri. Saya juga mengharapkan apa yang kamu harapkan. Sayapun patah oleh hal yang mematahkanmu. Tenanglah sayang, tak ada kesabaran yang dibalas kedustaan…

Meskipun harus berkali-kali lipat jarak patahkan kita, hancurkan semangat kita, mengobrak-abrik mimpi yang telah kita rangkai. Tapi Tuhan tidak pernah tidur, takdir tetap terus berjalan.

Yakinlah, meski keyakinanmu itu diyakin-yakinkan. Bahwa mimpi akan selalu bertemu dengan nyata. Bahwa ilusi akan selalu bersapaan dengan dunia.

Kamu yang saya kenal juga lewat dari dunia maya, terimakasih untuk semangat yang kamu salurkan meskipun terkadang tampak sia-sia.

Sosok yang kita kagumi barangkali belum tahu, atau tahu tapi tak berdaya menyenangkan kita yang berjarak. Sekali lagi terimakasih, kamu. Untuk keyakinan yang kamu bagikan…..

Semoga suatu saat, kita mampu menaklukkan jarak….

Salam sayang.

Lanna Ry
Batam, 18 September 2015.



Sunday, August 30, 2015

Semoga Saya Bermimpi

Saya masih seolah bermimpi pagi ini, seseorang yang lugu menurut pandangan saya, lebih baik sifatnya dari saya, lebih takut akan hal-hal baru dari saya membuat saya sempurna tak mampu membendung air mata.

Benarkah bahwa cinta itu membutakan, Ya Allah? Jika memang benar, saya harap saya tidak mengenal cinta sampai jodoh yang Kau takdirkan datang itu mengkhitbah saya. Haruskah perempuan semacam saya dan dia bergantung kebahagiaan pada seseorang pria yang entah itu ditakdirkan atau bahkan hanya pelengkap cerita?

Saya sempurna tidak mengerti, Ya Allah. Barangkali kami masih bebal, masih bodoh mengartikan cinta pada usia dini. Tapi lihatlah, Ya Allah. Kenapa harus dia yang sedang hijrah di jalanMu yang harus terjun pada dunia yang belum pernah kusentuh sebelumnya?

Kenapa telinga saya yang harus mendengar rangkaian kata dari bibir manis yang selama ini saya tahu tersendat-sendat mohon ampun padaMu, Wahai Pemilik Hati? Kenapa harus teman yang saya lihat semangat hijrahnya membabi buta? Kenapa harus dia yang terenggut bahagianya?

Saya tak marah, saya tak benci, saya tak menyalahkan siapapun. Saya bahkan menyalahkan diri saya sendiri. Harusnya saya merangkulnya lebih erat. Membuatnya bangkit dengan tangan saya. Apalah arti kosakata hijrah yang pernah saya lontarkan jika saya sendiri melepasnya?

Maafkan saya, teman. Marahlah pada saya jika memang saya adalah sebab kamu merasa kecewa dan akhirnya mencari sandaran lain selain seorang teman yang tak tahu diri seperti saya. Maafkan saya yang sering berkoar tentang persahabatan justeru membiarkan kamu seperti sekarang. Saya salah, dan saya minta maaf.

Mungkin seribu kata maaf dan abjad yang saya rangkai tak mungkin bisa mengembalikan semua. Tapi berjanjilah pada saya, berjanjilah, saya mohon… Berjanjilah untuk berhenti berkecimpung pada dunia itu. Kembalilah bersama saya, kembalilah,Sayang, Kembali… Saya berjanji akan memelukmu seerat mungkin, seerat yang saya bisa. Sumpah! Detik  ini hati saya masih sesak, air mata saya masih sering menetes tiba-tiba. Demi Allah, saya belum rela….

Saya mohon, kembalilah….

Bukan Kerudung Sampah,Tuan

Tulisan ini sengaja kutulis, kurangkai, kutujukan pada kamu. Wahai seseorang yang dahulu kuanggap malaikat pula untuk teman dekatku…

Takkah kamu malu dengan gelar yang kamu sandang sebagai seorang Ayah atas anak-anakmu? Sebagai seseorang yang mereka banggakan, sebagai seorang superhero berwujud nyata yang Tuhan anugerahkan pada mereka? Takkah sebenarnya kamu sadar, bagaimana jika seandainya kamu menjadi mereka, dan kamu dapati Ayahnya berperilaku semacam itu?

Dengan atau tanpa alasan. Kurasa tak pantas seorang yang menjadi kebanggaan putri kecilnya mengkhianati kebahagiaan dan janji-janji kehidupan yang damai. Apa janji kesetiaan, kasih sayang, dan moral-moral yang kerap kali seorang Ayah katakana pada putri-putri kecilnya adalah omong kosong?

Wahai kamu,  Seandainya kamu tahu, aku adalah orang yang paling terpental keras mendengar sebuah pengakuan. Tidak, aku tidak akan membahas dan mencomooh teman dekatku. Sumpah! Kamu tidak pernah tahu bagaimana seorang aku belajar mati-matian menarik sahabat-sahabatku menuju jalanNya.

Lantas lihat,Tuan… Kamu benar-benar menang. Selama ini aku diam, bukan berarti aku tidak peduli dengan keberadaan temanku yang telah kamu cintai ini. Diam-diam ada bangga yang menjalar tanpa ucapan. Diam-diam ada rangkaian doa “Semoga dia lantas menjadi alasan untuk aku masuk syurga, karena telah mengingatkannya”
Dan sekarang,Tuan.. Kamu justeru merenggut do’aku. Kamu menang atas segala sudut. Kamu kuasai jiwa teman dekatku. Kamu bahkan menariknya dalam dunia yang tak ia mau. Hey, takkah kamu berpikir ada air mata lain yang jatuh karena tingkahmu?

Setidak pantas itukah aku menarik temanku menuju jalan yang benar? Kenapa justeru kamu menariknya lebih jauh dari tarikanku untuk kebenaran? Kenapa justeru kamu yang membuat temanku yang telah mati-matian hijrah ini terjun lagi pada lubang yang lebih suram dari kehidupan sebelumnya?

Aku tidak benar, sama sekali belum benar dalam segala hal. Tapi sumpah,Tuan. Sumpah atas nama Tuhan. Aku tidak pernah rela kamu memperlakukan teman dekatku seperti seorang ratu. Semata-mata bukan karena aku iri. Tapi lihatlah,Tuan. Apa yang telah kamu lakukan? Kamu pikir kain panjang yang tersemat di rambutnya adalah sampah yang tak bermakna?

Kerudung kami bukan kerudung sampah,Tuan. Kerudung kami bukanlah kain lap yang darinya kamu bisa gunakan untuk menghapuskan kotoran. Kerudung kami bukan hanya penutup kepala,Tuan. Sumpah! Aku justeru jadi saksi bagaimana dia Hijrah. Lalu, kenapa kamu seperti manusia yang tak bernalar untuk menariknya semacam itu? Lantas, mana takutmu kepada Tuhanmu?

Mana cinta yang kamu sebut-sebut kepada temanku? Takkah seharusnya cinta yang kamu sebut itu kamu tujukan dulu pada dirimu, keluargamu, juga Tuhanmu?

Kamu anggap apalah kain panjang yang menutupinya selama ini? Kamu anggap apalah hijrah yang selama ini ia mati-matian kejar? Kamu anggap apalah usahanya merangkak menuju Tuhan? Kamu anggap apalah syariat-syariat islam yang seharusnya kamu lebih paham?

Tulisan ini, bukan karena aku merasa lebih dewasa dari kamu. Bukan merasa paling hebat dan paling tahu. Tapi lihatlah,Tuan. Aku, temannya, mencintainya, menuntunnya menuju Tuhan bersama, merangkak menangis kesusahan mempertahankan diri. Dan sekarang, kamu meruntuhkan benteng pertahananan temanku. Takkah itu menyakitkan untukku? Takkah itu lebih menyakitkan dari kehilangan seseorang yang berarti di hidupmu?

Aku merasa gagal. Aku merasa semua sia-sia. Dan selamat, kamu menang atas permaianan ini. Semoga Allah membukakan hatimu, membuatmu sadar, bahwa permainan yang kamu rangkai ini sama sekali tak lucu untukku—juga untuk temanku.

Dengarlah,Tuan.
Kerudung yang tersemat di kepala kami bukanlah kerudung sampah. Bukanlah asal-asalan. Kerudung-kerudung kami proses. Kerudung-kerudung kami adalah bukti seberapa jauh kami merangkak menuju jalan yang lebih terang.

Dengarlah,Tuan..
Hidup kami masih panjang, Tuhan kami masih menunggu semangat kami menujuNya.
Takkah sebenarnya kita memiliki Tuhan yang sama. Lalu mana toleransimu? Mana bukti cintamu padaNya?

Terimakasih,Tuan. Semoga Allah benar-benar membebaskan sahabatku dari belenggu kemaksiatan yang terbungkus oleh kasih sayang yang tak wajar…

Friday, August 28, 2015

Dear And To My Self

Dear My Self..
Takkah seharusnya kau sadar bahwa meski boleh jadi kau menjadi pilihan pertamanya, kau justeru tak bisa berbuat apa-apa! Takkah seharusnya kau sadar diri, meski berulang-ulang kau mencoba untuk menyatu pada akhirnya kau tak akan pernah sama!

Hey, takkah ini begitu menyakitkan hatimu? Takkah ini membuatmu kerap menangis seorang diri? Takkah kau lelah untuk berjuang? Takkah kau rasakan ini perjuangan yang sia-sia?

***

To My Self…
Jika saya bisa, seharusnya dari awal saya bahkan tidak memilih untuk bersama. Tidak memilih untuk berjuang, tidak memilih untuk menopang, tidak memilih untuk tertawa berdua, juga tidak memilih untuk membiarkan siapapun masuk lagi dalam hari saya.

Saya tahu, saya takkan pernah mampu berjalan pada ajaran yang sama. Tak mampu membaca kitab yang sama. Juga saya sadar, bahwa saya tidak mungkin pernah menyembah apa yang ia sembah hanya karena persahabatan.

Tapi lihatlah, meski perbedaan merenggut akhir persahabatan saya. Saya sekali-kali tidak ingin meninggalkan. Karena takkah kau sebenarnya paham,sayang? Ditinggalkan itu menyakitkan.

To My Self…
Jika tiba masa di mana saya harus mengalah, saya harus menyerah, dan saya harus melepaskan dia untuk seseorang sahabat yang jauh bisa menolongnya. Saya akan rela. Meski direla-relakan. Saya akan tesenyum, meski disenyum-senyumkan..

Karena kau tahu, Diri? Lebih menyakitkan jika saya harus melihatnya bertahan dalam perbedan hanya karena sebuah persahabatan….

Tertanda,
Saya.


Untuk,
Diri Saya.