Assalamualaikum..
Benar memang. Ada fase di mana semua rasa ingin tahu, ingin
berubah, ingin mengenalNya lebih jauh itu luntur. Samar. Tak berbentuk lagi.
Benar memang, ada saat di mana semua semangat itu lambat
laun memudar. Terkalahkan dengan hal yang jauh lebih memuaskan hati. Termasuk
pandangan manusia dengan apa yang kita lakukan.
Aku tahu susahnya melawan hawa nafsu. Meluruskan niat yang
kadang bercabang, berliku, tak pernah melulu lurus. Aku, paham betul rasanya
berjuang untuk tetap tegak dalam arus yang berbeda di zaman yang sedang
berkembang.
Aku, pernah merasakan ingin kembali—ke masa lalu. Ke masa di
mana semua temanku masih berdampingan denganku. Masa sebelum kerudung yang
kupakai sepanjang dan selebar ini. Masa di mana aku tak mempedulikan batas auratku
yang sesungguhnya. Juga tak mau tahu tentang syari’at yang diwajibkan atas setiap
muslimah yang telah beranjak dewasa.
Beruntunglah, manusia bebal sepertiku tidak benar-benar
terseret oleh bayang semu tentang indahnya dunia yang tak kekal adanya.
Terlampau bebal memang manusia sepertiku. Diberikan
kenikmatan berupa hidup yang meski tak berlebih tapi masih cukup pun tetap saja
tak tahu diri.
Apa yang dimintaNya tak aku hiraukan. Apa yang diwajibkannya
mana kupedulikan. Allahurabbi, pantaskah aku menginjak bumi yang Kau ciptakan
ini?
Hijrah. Bukan tentang seseorang yang berubah lalu menjadi
malaikat. Hijrah adalah tentang seorang hamba yang ingin taat.
Hijrah adalah tentang bagaimana merangkak, berjalan lalu
akhirnya berlari menuju ridhaNya. Bukan seberapa cepat, tapi seberapa kuat ia
bertahan.
Sekali lagi, hijrah itu proses. Bagaimana kita bisa menuju
puncak jika kita tak mendaki? Begitu pula, bagaimana kita bisa berjilbab sesuai
syariat kalau kita tak memulai?
Tak ada yang perlu diragukan. Orang tua yang tak merestui? Takut
jodoh tak ada? Hidupmu terasa jauh tertinggal? Ah, payah. Setiap bahagia butuh
perjuangan. Setiap cinta butuh pengorbanan. Anggap saja, hijrahmu ini adalah
bukti cintamu pada Rabbmu. Sang pencipta alam.
Aku sangat paham. Tak ada yang bisa merubah seseorang pun, kecuali
atas keamauannya sendiri dengan izin Allah.
“Dan seandainya
Tuhanmu (Wahai Muhammad) berkehendak, niscaya seluruh yang ada di bumi ini akan
beriman.” Q.S Yunus;99.
Kita sekadar mengingatkan, karena pada dasarnya. Aku pernah
berada dalam posisi itu. Tak mau tahu, merasa belum perlu berubah, sok hidup
paling lama. Lagi-lagi, kita tak pernah tahu kapan ajal itu datang.
Hijrah memang sulit teman, tapi kau akan tahu lagi bahwa
sebenarnya ada yang lebih sulit dari sekadar berubah.
Jika pada masa ‘perubahan’ kau hanya butuh berjalan
lambat-lambat. Maka ketika kau menjaga perubahan itu, kau harus memeluknya
erat-erat. Agar tak ada satupun dari perubahanmu yang akhirnya lepas satu-satu
dan megembalikanmu ke masa lalu.
Ya, hijrah is the most easy at all. But istiqomah is the
hardest thing after hijrah. You don’t know? Try it at your life!
Istiqomah adalah bagaimana kau mampu bertahan di tengah
cacian yang pasti akan kau dapatkan. Jika pertahananmu kaut, kau tak goyah.
Jika sebaliknya? Entahlah.
Berubah itu memang sulit, teman. Tapi kau akan tahu
bagaimana sulitnya menjaga “perubahan” itu setelah kau benar-benar berubah:’)
Berubah itu mahal sayang, tapi siapa saja mampu ‘membelinya’
jika benar-benar memiliki tekat.
Kau tak perlu takut untuk berubah sendirian. Sebab amal
perbuatanmu juga dihisab masing-masing tak mungkin bergerombol. Bukan benar
demikian?
Tak perlu takut melangkah sendiri, sebab di ujung jalan sana
akan ada saudari-saudari yang menunggumu dengan sepenuh hati <3
Ketika kau merasa sendiri. Ingatlah. Allah tak akan pernah
pergi. Ketika namaNya masih ada dalam dadamu. Dia akan selalu ada:’)
Ah ya, kau tak meminta hidung tak meminta mata, telinga dll
yang telah melekat pada tubuhmu. Tapi Allah memberinya,Bukan?
Ketika kau berdo’a. Cepat atau lambat do’a kalian terkabul.
Tapi kenapa kita sering lupa? Allah hanya meminta kita *hawa* menutup auratnya?
Payah kah?
Allah mewajibkan agar kita menutup aurat secara sempurna. Ah
tidak, kita bukan dikekang. Tapi dilindungi. Terlindung dari matamata ‘jahat’
:’)
Semuanya sudah jelas. Tertera pula dalam ayat CintaNya, tapi
#tanyadiri kenapa kita masih enggan? Kenapa hijrah terasa berat?
Barangkali tujuan hidup masih belum terarah. Barangkali hati
masih enggan untuk mengaku kalah. Ini bukan masalah duniawi saja,sayang---
Hijrahlah dan kau akan mengerti. Bagaimana sulitnya
istiqomah setelahnya.
Semoga Allah akhirnya mempermudah jalanku dan juga jalanmu.
Wallahu’alam.

