Kerudung panjangku selalu bersentuhan dengan rambut panjangmu. Tawaku juga berbaur dengan tawamu. Tanganku yang kerap kali tertutup seringkali menganggu tanganmu yang tampak putih mulus. Kakiku yang berbalut kaus kaki juga tak segan-segan berjalan berdampingan dengan kakimu yang polos tanpa penutup. Baju labuhku yang kerap kali mereka cap “norak” dan ketuaan juga tak pernah menolak berhadapan dengan bajumu yang seperempat lengan atau lengan pendek dibalut celana jeans.
Aku tahu, sekali lagi tahu. Mati-matianpun kita berjuang untuk satu, pada nyatanya alam, Tuhan, juga kenyataan tak mengizinkan kita satu. Kita tetap teman, aku jelas menyayangimu. Tapi tidak, sejauh ini dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengikuti jalanmu.
Bersama tak harus melebur,Kan?
Aku berterimakasih Tuhan masih menciptakan manusia yang meski berbeda tapi ia bisa saling mengerti. Aku juga berterimakasih denganmu. Di saat mereka yang seiman denganku mengatakan aku seperti ibu-ibu karena pakaianku, kamu malah mengenggamku menguatkanku dengan pakaian yang aku kenakan.
Terimakasih kamu tidak pernah malu melihat kerudung panjangku yang kadang terlihat terlalu ekstrim padahal mereka teman yang kupercaya ada malah menjauhiku tanpa alasan.
Tasbih dan Salib tak mungkin bersatu. Mereka berbeda. Si Masjid juga Si Gereja tak mungkin bisa satu tujuan. Tapi biarlah, meski kita akhirnya berpisah jua. Setidaknya aku tahu, bahwa terkadang perbedaan tak selalu buruk. Dan terkadang yang samapun tak selalu baik.
Seandainya nanti, suatu saat, akhirnya kita benar-benar berpisah menuju jalanNya. Kuharap kamu tetap tak menganggap orang-orang sepertiku memusuhi kelompokmu. Bahwa orang-orang yang berkerudung lebar bukan seorang teroris seperti yang mereka katakan. Bahwa orang-orang yang berbaju lebar bukan orang-orang norak serta bodoh dalam bergaul.
Soal toleransi, aku harap kamu mengerti. Toleransiku jauh berbeda dengan toleransi yang mereka junjung. Membiarkan kamu menyembah Tuhanmu tanpa mengusik apalagi menganggu;kufikir itu toleransi yang paling hebat. Karena tetap, agamamu untukmu, agamaku untukku.
Lovely Ayu...
Semua cerita dari duniaku, dari sudut pandangku, dari semua yang serba "aku" bukan "kamu" ^^
♫♬
Thursday, January 22, 2015
Sunday, January 4, 2015
Hebat. Tangguh. Kamu.
Tak ada yang lebih hebat di
mataku selain cara kamu bertahan menjalani hidup—meski kutahu, kamu
tertatih-tatih berjalan di tengah duka.
Selalu aku terlihat kerdil jika
aku di hadapkan denganmu. Dengan sejuta kejadian, yang nyatanya aku lebih
beruntung dari kamu. Sempat sesekali aku berpikir, hidupmu jauh lebih indah
daripada aku. Namun setelah mata yang kumiliki ini kubuka lebar, ternyata
justru akulah yang memiliki hidup yang lebih sempurna.
Maaf, berulang-ulang hati ini
selalu cemburu dengan kedekatanmu. Maaf, berkali-kali aku selalu
mempermasalahkan hal yang sepele karena hati tak mau sedikitpun mengalah pada
rasa ego.
Detik sebelum ini, menit, jam,
hari, bulan, dan tahun sebelum ini. Aku selalu merasakan kagum dengan caramu
bertahan. Dengan caramu yang tanpa air mata berhadapan dengan kami. Justru
akulah yang tak kuasa membendung tangis.
Kamu,
Tetaplah bertahan dengan caramu. Mungkin
benar, jika aku berada pada posisimu. Tanpa orang-orang yang menopangku, aku
hanyalah seorang gadis bodoh yang terjerembab dalam lubang kesedihan. Tapi syukurnya,
kamu tidak selemah aku. Tidak serapuh aku dalam menghadapi sebuah masalah.
Kepada kamu yang lagi-lagi
membuatku menganga karena bangga.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Tak
akan ada kata yang bisa mewakili bagaimana rasa bersalahku ini menyeruak, juga
dengan kekagumanku denganmu. Semua bercampur menjadi satu.
Terimakasih untuk segala
pengertian yang selama ini kamu ajarkan. Sekali lagi, aku tak akan pernah iri
apalagi cemburu dengan apa yang kamu punya.
Aku, menyayangimu. Seperti kamu
yang menyayangi kami selama ini.
Lovely Zi...
Wednesday, December 31, 2014
Andai Saya Bukan Aku
Andai saya bukan aku.
Pasti semuanya takkan sesakit ini. Andai saya bukan aku.
Mungkin cerita yang tersemai tak serumit ini. Tak sepahit, juga tak separah
ini.
Andai saya orang lain. Andai saya adalah mereka. Mungkin kamu
akan dengan santai berajalan dengan saya. Merangkul saya. Bahkan tertawa setiap
harinya.
Andai saya bukan diriku.
Lima kali lipat saya berusaha untuk menjadi orang lain, pada
nyatanya tetaplah saya adalah aku. Aku yang tak kamu sukai, aku yang menjadi
subjek paling memuakkan, dan aku yang tak diharapkan.
Sejauh apapun saya melangkah. Mengubah tabiat saya menjadi
mereka yang kamu banggakan. Pada nyatanya tetap saja, saya adalah aku. Saya tak
berhak menyalahkan Tuhan kenapa saya ditakdirkan sebagai aku. Yang saya
salahkan kenapa bisa seorang saya sepayah aku?
Andai, saya adalah kamu.
Wednesday, December 24, 2014
Aku, Kamu, dan Natal
Tulisan ini saya tulis untukmu, teman dekatku..
Sebelumnya aku tak peduli dengan apa yang orang lain ucapkan
pada hari ini. Entah mereka berpikir aku tak tahu balas budi, atau sejenisnya.
Sudah hampir empat tahun kita berteman dekat—meski bukan
sahabat—selama itu pula, aku tak pernah mengikuti adat ‘toleransi’ seperti yang
orang lain katakan padamu.
Aku terharu memang, ketika waktu shalat datang kamu menjadi
makhluk Tuhan yang paling taat untuk mengingatkanku salat. Meski pada saat itu
kau jelas tak mengerjakannya. Atau pada beberapa waktu kamu harus susah payah
menungguku di pelataran mushalla.
Aku jelas mencintaimu, sama seperti aku mencintai sahabatku.
Jika sayang itu tak kutuai, tak mungkin selama itu aku masih di sini. Begitu juga
dengan kamu.
Perbedaan tak membuatku membeda-bedakan. Hanya saja tak
semuanya bisa aku campur adukkan. Selama ini kita berjalan bersama, duduk di
tempat yang sama, bercakap-cakap, menyayangi, dan mati-matian berjalan
berdampingan,kan? Kupikir. Itu jauh lebih hebat daripada toleransi yang mereka
sebut-sebut.
Kamu bahkan tidak butuh ucapan apapun dari temanmu ini. Toh
pada nyatanya, dengan atau tanpa sebuah ucapan. Kita akan tetap berbeda. Kita menyembah
Tuhan yang berbeda. Kita membaca kitab yang tak mungkin sama. Kita...Ah,
teruskanlah. Terlalu pekat perbedaan itu.
Aku ingin menunjukkan pada mereka, bersama tak harus selalu
sama. Mendekat tak selalu harus membaur. Kalau memang sudah berbeda, kenapa
harus ngotot sama? Dengan saling tidak mengusik, tidak berpecah belah apalagi membenci. Bukankah itu salah satu bentuk toleransi yang jauh lebih nyata dari sekadar ucapan?
Dalam ajaran agamaku yang aku tahu. Memang tak diperbolehkan
mengucapkan. Itu jelas bukan karena membedakan, bukan karena tak ada toleransi,
bukan karena agama kami tak menyukai perdamaian. Ini soal akidah. Sudahlah,
mana mungkin aku perpanjang lagi. Kita pernah membicarakan ini.
Pada akhirnya, tanpa atau dengan ucapanku. Kamu tetap saja
merayakan. Kita tetap saja berbeda. Namun bedanya, dengan tidak mengucapkan aku
sudah berpegang teguh dengan agamaku. Dan kamu, dengan tidak mempermasalahkan
soal itu, kamu sudah berpegang teguh pada agamamu..
Lalu, untuk jawaban atas semua pertanyaan yang mengalir
dalam otakmu dan bermuara pada sebuah kebungkaman. Aku jawab karena meskipun
aku mencintaimu, aku lebih mencintai Tuhanku. Bukankah kamu demikian?
Telah Tuhan sempurnakan, bagiku agamaku. Telah Tuhan sempurnakan, bagimu agamamu...
For My Lovely Friend..
Ayam..
Sunday, December 21, 2014
Rindu Menulis yang Akhirnya Diabaikan
Ada yang bilang aku bodoh, karena menunggu terlalu lama. Ada
juga yang bilang aku bebal, karena terlalu bersikeras berdiri tanpa
penganggapan.
Tak sedikit pula yang mengatakan aku kejam, karena terlampau
berbaik hati pada orang yang tak punya hati untuk menganggapku ada. Ada yang
bilang hatiku batu, sebab mau bertahan untuk manusia berhati baja seperti kamu.
Beberapa pihak menyalahkanku, kenapa harus kamu yang
mati-matian dipertahankan sedangkan yang jelas nyata ada, aku biarkan dan
terkesan aku abaikan?
Aku menyerah sebenarnya menganggap kamu ada, menganggap kamu
berarti dan seterusnya. Mereka, dan sebagian yang lain mana tahu seberapa
berartinya kamu. Meski tanpa sebuah gelar sahabat, kamu tetap berarti untukku. Sampai
detik ini.
Tanpa sebuah gelar, aku berhutang banyak padamu. Meski perlu
kamu tahu, aku berdiri dan menanti perubahanmu bukan karena sebuah hutang budi.
Perlu kamu tahu juga, aku benar-benar berharap besar akan perubahanmu.
Dua bulan lagi, usia kita sama-sama bertambah. Aku masih
ingat, tahun lalu dan tahun yang lalunya lagi. Kamu tetap tak pernah mau
bertemu denganku. Aku tak tahu bagaimana tahun selanjutnya, apakah hatimu tak
berniat berbaik hati juga?
Dua tahun ini, aku tetap merangkai rindu sendiri. Merangkai harap,
berjalan bersama menujuNya.
Aku menyayangi sahabatku sekarang. Itu jelas saja. Aku juga
menyayangi teman-teman seperjuanganku yang selalu ada setelah kamu pergi. Tapi
ada ruang dalam hati yang masih lapang dan itu untuk kamu, teman yang
mengubahku menjadi perasa seperti sekarang.
Sudah lama sekali aku berhenti menulis, tapi kali ini aku
rindu.
Aku rindu menulis yang akhirnya kamu abaikan. Aku rindu
berbicara, yang akhirnya tak kamu dengar. Dan aku rindu untuk kamu rindukan. Seperti
kamu merindukan sahabat-sahabatmu.
Sampai hijrahmu datang, aku akan berada pada titik yang
sama.
Aku berjanji, ketika hijrah itu telah kamu lewati. Dan kamu
tak menginginkanku ada. Aku akan berhenti menjadikanmu yang berarti. Its a
promise. Hanya itu yang aku tunggu selama ini.
Semoga akhirnya kamu mengerti......
Tuesday, November 4, 2014
Bagaimanapun. Kamu Menang.
Saya tahu, rasa tak suka ini muncul bukan karena saya
membenci kamu. Juga bukan karena kamu memiliki kesalahan dengan saya. Rasa tak
suka saya ini muncul karena saya merasa jauh tertinggal dari kamu. Jauh
terbelakang dari kamu, dan jauh lebih tak berarti dari kamu.
Apa saja yang kamu lakukan—meski itu bukan kebaikan menurut
saya—kamu selalu dianggap baik olehnya. Dianggap malaikat bersayap yang penuh
cinta. Meski yang ingin kamu lakukan justru ingin mendorongnya masuk jurang. Kamu
akan tetap dianggap penyelamat.
Sedangkan saya,
Saya yang mati-matian berdiri untuk menolongnya dianggap
seperti malaikat pencabut nyawa. Yang sedetik saja ia tak mau melihat. Saya yang
berusaha membuatnya mengerti bahwa hidup bukan hanya untuk hal duniawi saja
dianggap debu menumpuk yang seharusnya hilang dalam sekali kibasan.
Bagaimanapun, kamu adalah pemenang dan saya yang
terkalahkan.
Bagaimanapun, kamu adalah yang terbaik—meski saya tak begitu
paham, apakah kamu benar-benar baik?—sedangkan aku hanya menjadi orang
terbelakang.
Bagaimanapun, saya akan menjadi orang yang selalu
disalahkan. Sedangkan kamu, menjadi orang yang paling hebat di matanya.
Saya jelas iri dengan kamu.
Saya lelah untuk berbaik hati, tapi pada akhirnya kamu yang
di damba.
Ya, apakah benar saya melakukan ini semata-mata hanya karena
ingin pengakuan bahwa saya yang paling sabar? Sepertinya tidak. Sabar atau
tidak pun, saya tak akan pernah teranggap lagi.
Sunday, November 2, 2014
Berkali-kali Setelahnya. Selalu Ada Luka.
Berkali-kali setelahnya. Selalu ada luka.
Kepingan kenangan yang pernah kurakit bersamamu kini berbuah
menjadi abu yang memburamkan mata. Membuat sesak ketika dihirup dan tak akan
ada yang ingin menyimpannya erat. Meski hanya sesaat.
Mati-matian aku membuang mereka; seperti kau yang membuangku
dari dunia. Seperti kau yang mengusirku dengan paksa. Hingga akhirnya aku
tersungkur sendirian, tanpa pedulimu, tanpa pertolonganmu. Hanya ada beberapa
orang yang mau menopangku. Dan jelas, orang itu bukan kau.
Dulu, aku selalu menjadikanmu orang yang paling istimewa di
atas istimewa. Dulu, aku selalu berdo’a kaulah yang menjadi tubuh keduaku. Hingga
mati-matian pula aku ingin melindungimu. Sampai detik ini, meski semuanya
berakhir semu.
Malam, aku selalu dibuat gila oleh permainan otakku. Yang menyeretku
menyaksikan rekaman bodoh yang pernah terjadi antara kita. Mereka begitu jelas,
dipaksa berhentipun tak akan pernah bisa. Rekaman itu terus berulang. Setiap malam.
Setiap saat, ketika yang kusebut rindu itu tercipta. Namun, jika kau paham. Berkali-kali
setelahnya. Luka itu selalu datang.... Mengerikan...
Subscribe to:
Posts (Atom)

