♫♬

Monday, December 5, 2016

Diary Octopus



Diary Octopus
Saat cinta yang kupunya bukan apa yang direstui semesta

LANNA RY

Penerbit CV Raditeens, 2016

***
Aku tak lagi merasakan kesepian, aku mendadak tak lagi takut soal sendiri.
Karena yakinku, doa mu selalu membersamaiku….
***
Kau bisa lihat ada apa di sana?
Ada harapan yang terlanjur musnah,
Ada kekecewaan yang sudah berdebu,
Ada kesedihan beradu padu,
Ada mata yang tak berhenti berdrama
Aku tidak apa-apa.

***




Wednesday, July 27, 2016

DIA

Tuhan, boleh aku mengadu tentang banyak hal?
Pria itu manis sekali. Aku memang belum pernah melihatnya secara utuh dan jelas dengan kedua bola mata yang Kau berikan. Tapi, aku tahu dia pria yang manis;barangkali aku menebak. Hingga kemanisan yang kutemukan dalam dirinya membuatku tersenyum amat sering.

Pria itu lucu,meski benar kelucuannya belum sempurna ia sematkan dalam kehidupan nyataku. Tapi jauhpun, dia amat berhasil membuat gigiku tampak sambil tertawa.

Tuhan, aku ingin sekali mengadu banyak hal.
Tentang bagaimana susahnya aku merangkai hati untuk bangkit dan pergi sejauh mungkin dari masa kelamku.

Tentang bagaimana bibirku selalu terkunci rapat atas duniaku yang terdahulu pada orang-orang baru, apalagi seorang pria.

Tapi, malam itu. sederet kalimat ia kirimkan melalui ruang chat yang memang dari sanalah aku bisa bertemu pria itu.

Ada pelangi di matamu. – Pesannya.

Aku sedikitpun tak terpikir bahwa itu adalah kalimat pujian untukku dari pria itu. Melainkan kalimat pernyataan pandangannya atas diriku. Aku tersenyum amat pahit dari balik telepon genggamku—asal dia tahu.

 Dan malam itu pula,

Aku menceritakan semuanya pada pria ini. Pria manisku yang kusebut dalam paragraph pertama, pria lucuku yang kusebut pada paragraph kedua.

Dan tahulah dia siapa aku di masa lalu.
Pria manisku mendengarkan setiap kalimat yang aku utarakan.

Dan,
Setelahnya akulah yang membathin, pelan, tanpa kusadari ada air mata yang turun.

Semoga dia tahu penyebabnya.


Love,

L’R.

Thursday, May 12, 2016

Aku Hanya Tidak Mengerti

Sayang,
Ada rasa yang sebenarnya belum sepenuhnya kamu paham. Ada cara yang sebelumnya memang belum kamu mengerti. Aku tidak menyalahkan takdir soal apapun. Hanya saja, apa benar jika sebenarnya kita bertaut? Atau pura-pura bertaut?  Apa benar kita memahami? Atau sebenarnya ketidakpedulian yang dipaham-pahamkan? Entahlah.

Aku,
Tidak pernah banyak meminta. Tidak meminta seluruh isi kepalamu harus aku. Tidak pula meminta 24 jam milikmu harus menjadi milikku.

Aku hanya tidak mengerti, sejauh mana sebenarnya kita saling mengenal. Sejauh mana kita bertaut, sejauh mana kamu menginginkan aku ada, sejauh mana namaku masuk dalam hatimu, sejauh mana aku berada pada detik nafasmu. Aku hanya tidak mengerti.

Lidahku yang berbicara soal rasa tak pernah bisa merubahmu. Tak pernah mampu menjelaskan bagaimana dari dulu—mungkin sekarang—kamu tetap berada di satu celah hati milikku. Kamu tidak paham, atau sulit paham, atau bahkan tidak mau paham. Aku juga tidak mengerti soal ini.

Setiap pergerakan tubuhmu, sama sekali tak terjangkau oleh mataku, apalagi tanganku. Bagaimana bisa aku berdiam diri tanpa bertanya apapun? Pun, kamu juga jarang sekali bertanya aku kemana, aku bersama siapa, aku kenapa, aku baik-baik saja atau bahkan nafasku tinggal sejengkal. Aku juga sangat tidak mengerti soal ini. Aku berada di mana dalam hatimu?


Ada seribu pertanyaan bertajuk Apa yang juga entahlah menanyakannya….

Thursday, April 7, 2016

Dera Is (Not) My Dream

Buku ini kutulis untuk dia,
Seseorang yang tak sama sekali matanya bertatap dengan mataku. Yang tubuhnya terpisah oleh pebatasan laut yang entah sekian sekian kilo meter.

Meski, 
Entah yang kutulis ini tersampaikan atau tidak. Setidaknya segala yang kusimpan teralokasikan. Jika tidak pada nyataku,bolehlah pada tulisanku. Its enough for me.

Dera, aku mencintaimu sesedarhana tulisanku.. 

*** 

Sebab

Sebab terkadang,
Aku ingin dikenal.
Diakui ada, dilihat nyata.
Sebab terkadang,
Aku ingin terbang, menarikmu dari seisi keramaian.
Untuk menjelaskan,
Ada do'aku.
Di sana.

Di perbatasan langit dan singgasana Tuhan.

Penulis: Lanna Ry (Wulan Arya)
Tebal: viii+100 hlm
ISBN: 978-602-74252-3-1
Penerbit: CV Raditeens
Harga: Rp38.000

Order : 
LINE : Aryawulan 
WA : 0897-0110-558

Monday, February 29, 2016

Di tumpukan Mana?

Kepada kamu, orang yang kurang lebih empat tahun kusebut sahabat.
Aku sering sekali berada di posisi ini. Posisi di mana aku, tidak tahu apa-apa. Tidak tahu apa masalahmu, tidak tahu apa maumu, tidak tahu bagaimana bersikap denganmu, tidak tahu bagaimana merengkuhmu seperti—konon—sahabat yang selalu ada dalam setiap situasi apapun.

Tak jarang bahkan hampir setiap saat aku dihadapkan dengan sikapmu yang semacam ini aku tetap mencoba berbicara. Mencoba menjadi sahabat yang katanya selalu ada. Namun, barangkali bukan itu maumu.

Kerap kali, ketika tanganku menyentuh ujung kulitmu kamu menepisnya, namun saat itu akupun masih mencoba menyimpulkan senyum. Meski jauh dari lubuk hati, ada rasa pahit yang tak mampu aku jelaskan.

Kerap kali, di saat seperti ini. Tubuhku mendekatimu, mencoba mencairkan suasana diammu. Namun, sekali lagi, kamu beringsut pergi dan menjauhi tubuh yang mati-matian aku dekatkan padamu, hanya karena aku tak ingin membuatmu merasa seorang diri.

Sering sekali, bibirku mencoba berbicara dengan nada ceria—meski keceriaanku itu dibuat-buat—hanya karena aku ingin mengobrak abrik diammu menjadi tawa. Namun, sering pula ucapku itu bertemu dengan senyum sinismu tanpa balasan yang kuinginkan.

Di mana sebenarnya aku di letakkan dalam hidup seorang yang kusebut sahabat? Apakah aku diletakkan pada tumpukan ketidakpentingan di paling bawah dari hidupmu?

Kamu,
Memang paling baik, paling nyata berada dirak teratas ketika aku terjatuh. Telinga yang paling terbuka lebar atas cerita hidup yang memuakkan. Tapi, mungkin tidak denganku.

Aku,
Bukan yang paling baik, bukan yang paling nyata ada, juga bukan pendengar yang kamu inginkan ada. Hingga kamu lebih memilih diam dengan sejuta ketidakmungkinan yang aku ciptakan sendiri.

Lantas, di manakah letak orang yang kupikir sahabatmu ini?
Setiap cerita entah itu ceria atau duka, selalu kukisahkan bulat-bulat denganmu. Namun sejauh ini, diam masih menjadi andalanmu.

Jika mereka bertanya tentangmu padaku, jelas aku menjawab tidak tahu.
Bagaimanalah? Bahkan untuk memulai berbicara dengan alphabet A saja. Kamu sudah beringsut menjauh.

Lantas, sekali lagi kutanya. Di manakah sebenarnya aku diletakkan dalam hidupmu?

Sahabat—pantaskah diriku menempatkan diri sebagai sahabatmu?—
Aku berkali-kali mengatakan pada semua orang. Aku bukan malaikat. Aku bukan peri. Aku bukan bidadari. Aku bukan makhluk Tuhan yang punya kadar kesabaran beratas-ratus kali lipat. Yang bisa kamu acuhkan sebebas diammu.

Aku tidak bisa menerka apa maksud diammu. Entah itu dikarenakan aku, oranglain, orang tuamu, masalahmu atau apapun.

Tapi rasanya tak pantas jika di posisi kedewasaan macam ini, bisu menjadi andalanmu.

Aku tidak bisa kerap kali melawan egoku untuk terus kamu abaikan ketika ucapku mati-matian aku paksakan. Aku tidak bisa kerap kali mendapatkan perlakuan seolah aku yang bersalah, sedangkan aku sudah bersusah payah membuatmu kembali tertawa.

Aku juga bisa lelah, bisa habis kata, bisa habis daya, bisa habis kesabaran, bisa habis cara, bisa habis kekuatan, bisa habis kepercayaan bahwa aku adalah sahabatmu.

Takkah sebenarnya sahabat saling menguatkan? Namun, bagaimana aku menguatkanmu jika setiap kekuatan yang aku salurkan justeru kamu tolak mentah-mentah dengan diammu?

Takkah sebenarnya sahabat saling berbagi? Bagaimana bisa berbagi jika hanya mulutku saja yang berkoar-koar dan mulutmu terkunci?

Lalu, di tumpukkan mana aku berada? 


#LR
Batam, 29 Februari 2016.

Monday, January 18, 2016

Meski Dulu

Teruntuk masa lalu yang nampaknya masih berpikir bahwa dirinya adalah nomer satu.
Semoga kamu baca ini…
Sayang,
Waktu dapat merubah segalanya. Waktu dapat menyembuhkan luka yang dulu sempat menganga. Waktu dalam mendewasakan saya, waktu dapat membiasakan saya tanpa kamu.

Dengarlah ini,
Meski kamu dulu saya sebut-sebut berarti, meski dulu selalu kamu yang saya jadikan subjek yang PALING terkasih. Semua berubah, sayang. Semua benar-benar berubah. Hidup saya, dunia saya, rasa simpatik saya, rasa kasih sayang, semua tidak lagi tertuju pada kamu. Saya tidak lagi berimajinasi bahwa ada masa di mana kita bersatu, menjalin persahabatan seperti impi saya;dahulu.

Waktu berjalan, dan kebaikhatian saya menguap. Semuanya hilang, dan kamu bukan lagi separuh bahagia saya. Maaf, mungkin saya tidak semaaf Tuhan yang mampu memaafkanmu dalam sekali ucap. Jika boleh jujur, kebencian saya terhadap sikapmu semakin mengental. Entah kenapa, ini tak lagi soal rasa. Namun, soal kedewasaan.

Caramu membuat saya muak. Membuat saya ingin muntah. Hah, ini begitu gila. Sebenarnya, diantara saya dan kamu, siapakah yang tak pandai berdamai dengan masa lalu? Kamu? atau saya?

Kamu selalu bilang, bahwa kamu takut saya kembali ke masa pengharapan atas hadirmu. Hah, takkah kamu sedang bercanda? Hidupmu bukan lagi urusan saya, jikapun iya, tugas saya hanya memberimu do’a, bukan kembali merangkai pengharapan.

Sejauh ini, dua tahun berjalan. Saya merubah diri saya menjadi pemaaf, menjadi perela, namun, rasanya itu percuma jika subjek yang saya hadapi adalah kamu. Sempurna waktu merubah pikiran saya. Bahwa hidup saya mutlak ditangan saya. Dan separuh kebahagian yang PERNAH saya gantungkan kepadamu, saya cabut dan saya biarkan mereka terbang mencari jalannya.

Boleh saya  minta sesuatu? Pergilah sejauh mungkin, sejauh yang kamu bisa. Jangan ganggu hidup saya lagi dengan alasan apapun. Bukankah, dulu kamu yang mengajarkan saya pergi? Saya tidak balas dendam. Hanya, saya sudah terbiasa tanpa kamu. Benar sudah menguap semua harapan tuk bertemu.

Caramu menyadarkan saya, bahwa saya tak selayaknya memperjuangkan manusia yang bahkan tak ingin diperjuangkan. Waktu merubah hati saya menjadi kembali keras, sayang. Tak ada ruang untuk kembali baik, apalagi kembali berjuang hanya karena sebuah sapaan yang tidak sengaja kamu keluarkan dari bibirmu lewat ujung telepon.

Bawa saja semua rasamu. Rasa bersalah dan semua permintaan maafmu. Semua sudah basi. Semua sudah sempurna menguap…
Terimakasih, sayang….
18 Januari 2016.
Lanna Ry.




Thursday, January 14, 2016

Jangan Tarik, Sayang

Jangan pukul aku dengan menarikku ke masa lalu. Ya, aku salah. Duniaku pernah terjungkir balik. Aku pernah mencinta begitu hebatnya, pernah terhempas pada akhirnya. Pernah berjuang dengan penuh kasih, pernah merangkai kata cinta untuknya. Pernah merasa bahwa dia adalah obat dalam sesakku. Dan aku tahu, dia perempuan.

Aku salah dan aku tahu. Tapi, takkah ada beribu kesempatan untuk bertaubat? Minimal, kembali pada jalurNya?

Aku tahu aku berdosa, justeru karena itu aku mencoba kembali. Aku masih belum sepenuhnya terarah, tapi hatiku mulai tertata. Lihatlah, kalian tak tahu bagaimana tangisku pecah sejadi-jadinya merelakan. Menghapuskan rasa yang memang tak sepantasnya ada.

Kalian tidak tahu bagaimana sesaknya keluar dari lubang yang terlanjur dalam. Rasaku pada perempuan itu justeru sudah terlanjur hebat. Terlanjur dahsyat, tapi syukurnya rasaku tak berbalas dan Tuhan menghempaskanku sendirian tanpa pertolongan perempuanku tadi.

Sendiri aku tertatih mencinta, terluka macam orang gila. Tapi, apakah berbalas iba? TIDAK. Dan sempurna Tuhan menghempaskanku, sayang.

Lama aku mencari celah agar bisa pergi, menikmati setiap luka yang perempuanku beri, aku tidak mencari alasan untuk membencinya, namun mencari alasan untuk pergi dan kembali pada jalanku.
Takdir Tuhan bekerja disetiap sujudku, disetiap air mata yang berlinang karena malu. Rasa itu musnah, hancur dan beruap. Aku sudah tidak lagi menggila olehnya, tidak lagi mencari dalam setiap malamku. Tidak mencari dalam setiap ketikan abjadku. Lambat namun pasti, perempuanku telah pergi..

Dan jika sekarang kudengar sayup-sayup aku dihujat karena kesoksucian. Kepalaku tertunduk, kakiku melemah, rasanya hujatan itu menusuk tepat dihatiku. Jangan tarik aku menuju masa lalu yang semacam itu, aku lelah, aku ingin sempurna kembali.

Biarlah aku berada pada duniaku sekarang, dunia yang sudutnya diasingkan. Dianggap sok suci, ekstrimis, dianggap teroris, dianggap sok baik, dianggap sok malaikat, dianggap aneh, kampungan, atau apalah. Asal tak lagi aku berada pada duniaku dahulu…

Demi nama Rabbku, aku ingin sempurna kembali….


Batam, 14 January 2016.